Makna Pemuda Berkarakter Berkarya untuk Bangsa dan Negara




Pemuda adalah generasi penerus bangsa. Masa depan suatu bangsa ada di tangan pemuda. Bangsa Indonesia memiliki cita-cita untuk menjadi negara besar, kuat, disegani dan dihormati keberadaannya serta tidak mudah goyah oleh negara lain. Dalam hal ini, pemuda menjadi suatu harapan bangsa yang nantinya akan meneruskan cita-cita luhur segenap bangsa Indonesia dan melindungi tanah air Indonesia. Pemuda yang berkarakter dan berkarya sangat diharapkan dan diimpikan. Jika para pemuda memiliki kesadaran yang baik maka negara pun tentu akan menjadi baik. Namun jika kita lihat bersama, saat ini kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan  diwarnai oleh berbagai kesenjangan dan ketidaknyamanan. Berbagai peristiwa yang tidak diharapkan terjadi di mana-mana dan dirasakan mengganggu dan bahkan merugikan dalam kadar yang cukup besar. Era globalisasi dengan ikon teknologi, yang di satu sisi telah membantu percepatan kemajuan bangsa. Namun seiring dengan hal itu, dirasakan juga dampak yang tidak diharapkan di dalam kehidupan berdemokrasi. Demikian juga halnya terhadap nilai-nilai kebangsaan. Beberapa hal mulai bergeser keluar dari norma-norma yang dijunjung tinggi bangsa ini. Setelah kemajuan teknologi yang berkembang di Indonesia ini, membuat para pemuda menjadi individualis. Sebagian besar penggunaan teknologi disalahgunakan oleh para pemuda. Pada zaman ini juga banyaknya kasus penggunaan narkoba dan pergaulan bebas yang seakan menjadi kebiasaan hidup para pemuda bangsa. Budaya yang dilakoni pemuda ini merupakan salah satu indikasi betapa kuatnya budaya asing merubah budaya kita dalam kehidupan pemuda lewat arus besar globalisasi. Pemuda tidak lagi bangga dengan kekayaan budaya yang dimilikinya. Pada saat ini pemuda hanya menghabiskan waktunya dengan kesenangan pribadi. Pemuda yang dicita-citakan menjadi generasi yang berbudi luhur, berkarakter, dan berkarya di tanah air ini sudah jauh dari harapan. ‘’Indonesia’, itulah negeri yang merdeka dan bangkit dengan penuh perjuangan. Para Pejuang bangsa rela berkorban untuk kemerdekaan tanah air. Dan dimana mereka berharap bahwa suatu saat nanti pengorbanan mereka tidak sia-sia, dan akan diteruskan oleh para generasi bangsa yang akan melindungi negara dalam keadaan apapun. Namun tanpa adanya semangat dan karakter yang baik oleh para pemuda dalam negeri ini, maka negara ini ibarat suatu pondasi yang tak bertiang yang akan hancur ketika gelombang besar menghantam. Karena tak adanya kekuatan yang mampu memperkokoh pondasi tersebut.
Demikianlah negara Indonsia, yang bisa jatuh jika pemuda Indonesia tidak memiliki karakter yang berbudi luhur untuk mempertahankan bangsanya dari negara lain. Perjuangan oleh para Pejuang yang telah gugur di Medan perang seharusnya menjadi ingatan dan kekuatan bagi para pemuda untuk tetap menjaga dan melindungi tanah air Indonesia. Perjuangan Pahlawan kita telah membuktikan betapa mereka menginginkan Indonesia merdeka dan bebas dari perbudakan bangsa lain. Namun seiring waktu kita telah mengabaikan perjuangan Mereka.  Bangsa Indonesia khususnya para pemuda seharusnya memegang teguh dan menanamkan dalam dirinya bagaimana perjuangan para Pejuang Indonesia di waktu yang lalu. Seharusnya para pemuda menjunjung tinggi nilai-nilai moral kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda yang seharusnya memiliki kesadaran untuk selalu berkarya untuk bangsa hanya menjadi perbincangan, yang sampai saat ini belum menjadi fakta bahwa pemuda sudah bertindak sesuai dengan jati diri karakter bangsa Indonesia. Bahkan sebaliknya pemuda menjadi anarkis, perbuatan yang seharusnya tidak ada dalam diri pemuda Indonesia menjadi suatu budaya. Dimanakah pemuda yang dicita-citakan itu?. Akankah Negara ini akan terus seperti ini?. Zaman ini berubah drastis, bahkan untuk pertanggungjawaban terhadap diri sendiripun pemuda belum tentu bisa, apalagi untuk tanah air ini. Peristiwa ini menjadi hal utama bagi para pemerintah serta masyarakat untuk turut serta dalam pembenahan karakter pemuda. Fenomena merosotnya karakter berbangsa di tanah air ini dapat disebabkan lemahnya pendidikan karakter dalam meneruskan nilai-nilai kebangsaan pada saat alih generasi. Di samping itu lemahnya implementasi nilai-nilai berkarakter di lembaga-lembaga pemerintahan dan kemasyarakatan ditambah berbaurnya arus globalisasi telah menggaburkan kaidah-kaidah moral budaya bangsa yang sesungguhnya bernilai tinggi. Seperti yang kita lihat terutama di perkotaan kebanyakan hanya mementingkan diri sendiri, jiwa serta karakter yang tertanam pada diri pemuda bangsa Indonesia ini tidak sesuai lagi dengan harapan serta cita-cita bangsa Indonesia. Pemuda perlu dibekali dengan membangun kesadaran nilai-nilai Pancasila serta pengembangan karakter bangsa Indonesia semakin diperkokoh. Oleh karena itu pembelajaran karakter sangatlah prioritas, dimana karakter yang kuat memiliki peran yang sangat strategis dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas, yang memiliki integritas yang tinggi sebagai bangsa Indonesia dan menjadi pemuda yang berkarya. Pembekalan kesadaran berbangsa menjadi  pedoman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia khusunya para pemuda  untuk bersatu dan berdaulat demi kemerdekaan Indonesia.
Jiwa masyarakat setia kepada Tanah Air menjadi bagian dari diri masyarakat untuk tetap memegang janjinya kepada Negara.  ‘Rumah Indonesia’’. Itulah tempat kediaman kita yang seharusnya dilindungi.  Kita perlu mendukung dan menggalakkan prakarsa-prakarsa cultural  agar solidaritas cultural bangsa Indonesia yang tercetus sejak Sumpah Pemuda 1928 semakin signifikan. Apalagi kalau kita akui bahwa segenap nilai-nilai yang terkandung dalam wawasan Nusantara dan ketahanan nasional adalah satu kesatuan yang solid, utuh, dan padu. Sudah waktunya kita membenahi bangsa kita dengan jiwa yang bersatu di kalangan pemuda, saling  gotong royong, senasib dan sepenanggungan, solidaritas sosial, yang semuanya kita akui sebagai dari nilai-nilai luhur budaya bangsa kita. Pemuda bangsa Indonesia sewajarnya dibekali dengan nilai-nilai bangsa Indonesia dengan ideologi bangsa yaitu Pancasila. Namun walau bangsa kita berkepribadian Pancasila, tetapi itu belum berarti bahwa Pancasila telah menjelma wadag di segala bagian-bagian dan sudut-sudut masyarakat kita, telah gematerialiseerd di segala lapangan-lapangan hidup masyarakat kita! Ada orang berkata buat apa Pancasila, sedangkan masih banyak kemiskinan di kalangan rakyat. Buat apa Pancasila, sedangkan perikemanusiaan masih sering dilanggar orang, adakah Christendom yang bersalah kalau masih banyak orang yang tidak christelyk. Adakah Islam yang bersalah kalau belum semua ajaran terselenggarakan, adakah satu defect kepada Pancasila, kalau masih ada orang-orang Indonesia yang tiada ber-Tuhan, Kalau masih ada perpecahan dan provincialism, kalau ada orang-orang yang kejam pada sesama manusia nasional-chauvinis, kalau masih belum berjalan sempurna kedaulatan rakyat, kalau masih ada kemiskinan dan kemelaratan. Tidak, salahnya ialah bahwa kita, juga dalam hal Pancasila melupakan elemen perjuangan. Juga dalam hal Pancasila, orang harus berpikir dalam istilah geest-wil-daad! Bangsa Indonesia harus berjuang terus, berjuang dalam arti yang luas, berjuang terutama dalam arti membangun, membangun materiil dan membangun moral. Agar hidup yang bernama Pancasila itu benar-benar menjelama wadag di atas segala lapangan kehidupan. Bangsa Indonesia harus berjuang, terus berjuang, Mempergunakan keadaan dan menunjukkan keadaan, agar Zinjn-nya subur dan berkembang. Berjuang terus agar kepribadiannya menjelma wadag dimana-mana, toon-hidupnya gematerialiseerd di segala lapangan, Pancasila menjadi kenyataan yang dapat diraba, menjadi tasbare wekelijkheid di seluruh masyarakat tanah air kita. Pemuda harus didorong dengan nilai-nilai pancasila yang nantinya membawa mereka kembali ke arah yang diharapkan, menjadi pemuda yang berkarakter dan mampu berkarya untuk bangsa dan negara.
DAFTAR PUSTAKA
1. Dr. Deny Setiawan, M.Si dan Fandi Setiawan, S.Pd,Gr. Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Kewarganegaraan. Medan: Larispa, 2014.
2. J. Piliang, Indra. Merebut Hati Rakyat. Jakarta: PT Primamedia Pustaka, 2004.
3. Prof. Dr. Mr. Drs. Notonagoro. Pancasila Dasar Falsafah Negara. Jakarta: PT Bina Aksara, 1983.
4. Prof. Dr. Prayitno, MSc. Ed. Pendidikan Karakter Dalam Pembangunan Bangsa. Padang: Pasca Sarjana Unimed, 2010






Komentar