Hidup dan Pilihan


Tali-Tali Kehidupan yang Menjerat

Kehidupan, yah.. inilah kehidupan. Lalu lalang kendaraan, polusi, serta suara-suara gemuruh dari setiap orang, Hari demi hari jam demi jam bahkan detik demi detik kita selalu berjalan di sepanjang jalan. Ada berbagai kisah kehidupan di setiap diri manusia. Ada saat dimana seseorang akan mengalami sukacita dan ada saat seseorang mengalami dukacita. Tanpa duka seseorang tidak akan mengerti bagaimana untuk bertahan dari cobaan. Tuhan memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih apakah akan  berjuang dalam hidup atau menyerah.
“Nia, mulai hari ini kau harus sukses, harus lebih baik dari yang kemarin” tegasku dalam hati. Dimulai dari rasa kecemasan belakangan ini, aku sempat berdiam diri di kamarku. Sempat terlintas di benakku sebelumnya bagaimana bisa melewati dan meraih sukses itu. Hari ini tepat pengumuman jalur undangan dari sekolah untuk bisa masuk Universitas idamanku “UGM atau USU” jurusan Hukum tentunya. Aku mulai deg-degan untuk menerima hasil yang akan diumumkan tinggal beberapa menit. Aku mulai log-in ke situs jalur undangan tersebut, “ting-tong, nama Nia dari hasil seleksi dinyatakan maaf anda tidak diterima”. Sontak aku kaget melihat layar monitor notebook. “kenapa aku tak lulus?” dalam hatiku bergumam. Aku mulai merasa gagal di saat itu. Kulihat kembali nilai raporku kulihat bolak-balik dan kupandang hingga kujumlahkan nilai keseluruhan di setiap semesternya, “seharusnya aku bisa lulus, tapi kenapa kok jadi begini?” kesalku di saat itu. “padahalkan nilai Ilmu sosialku udah paling tinggi di sekolahku” bantahku sambil menangis. Aku mulai kecewa dan aku meragukan diriku sendiri.
Seminggu berlalu kujalani kekesalanku. Tiba-tiba datang kabar burung pembawa berkah dari teman-temanku “hai, gimana? Lulus kau?, iya aku lulus di univ***. Jurusan? Hahaha Hukum. Kalau kau? Iya aku blum lulus nih, yang sabar ya kawan. Bulan depan ada tes seleksi masuk univ favorit, Oh gitu ya okelah thanks.” Gossip teman-temanku. Aku pun mulai gembira kecil “wes akhirnya harapanku blum pudar” dalam hati. Tiba-tiba temanku menghampiri. “Nia gimana kabarmu lulusnya kau?” lalu kujawab “ hmm blum Bill”. “Jangan berkecil hati kawan, aku juga sama blum lulus. hahaha”. si Bill tertawa menyemangatiku. Aku tersadar sejenak, mengapa kawanku si Bill bisa tertawa riang polos. Disaat itu juga aku mulai bersemangat dan bangkit kembali. Dua hari berikutnya aku mulai belajar giat sendiri, disaat yang lain asyik mengikuti program bimbel, aku tak mau kalah dari yang lain walau aku sendiri “hahaha” tertawa lepasku. Dua minggu berlalu aku sudah belajar giat hingga tiba saatnya ujian. “hari ini hari penentuan, aku harus bisa masuk jurusan hukum di UGM” tekadku di depan cermin.  Selain itu juga aku mendaftar ke Universitas Lain  jurusan Pendidikan Sosial.
Tes pun berlalu dan seminggu kemudian menunggu hasil tes pengumuman. Kubuka situs pengumannya dan log-in “jreeeng jreng” ternyata lulus pada jurusan Pendidikan Sosial. “Ahh gila gila gila, mati sudah harapanku”. Aku kecewa dan kecewa karena aku tidak masuk jurusan hukum hingga membuat harapan hidupku tak berdaya. Saat itu aku tidak berniat melanjutkan jurusan Pendidikan Sosial, namun ibuku memberi dukungan kepadaku untuk melanjutkan jurusan tersebut. Lalu aku berangkat ke medan dan hari pertama aku memulai perkuliahanku di bulan Agustus 2013 dengan perasaan yang sangat kecewa. Aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku tidak bahagia dengan kuliahku karena itu bukan jurusan yang kuharapkan. Hari berlalu aku masih mengikuti perkuliahanku. Sampai semester 3 aku terus menutup diriku dari lingkungan sekitarku (kos).
Semester 4 pun kini kujalani. Aku yang dulu tertutup karena rasa kesal yang tak kuharapkan, perlahan mulai terbuka dengan lingkungan sekitar kampusku. Satu per-satu aku mulai akrab dengan seluruh kampus. Ini merupakan jalan yang sebelumnya berlubang kini telah diaspal walau hanya hotmix. Aku pun mulai menyukai jurusanku yang terkadang membuatku sedikit mengeluh dan kesal karena mulai adanya pelajaran mengajar. Dalam hati “ya inilah jalanku, aku harus bersyukur, masih banyak tali-tali di luar sana yang mungkin bisa mengikatku ke jalan yang benar.”
Di penghujung semester, ya…penghujung jalan. Itulah ungkapan yang cocok buat para pelajar. “mau kemana aku setelah ini?, mungkinkah aku terikat dengan tali yang salah?, ataukah mungkin aku tak bisa terikat? Atau malah sebaliknya tali yang mengikatku menggumpal bahkan putus?” itulah yang ada di benak diriku. Namun, perlahan diriku terikat ke ikatan yang bagiku itu adalah tali pertama yang sangat membuatku terikat “cinta”. Aku mulai mengenal yang namanya cinta. Aku pun sedikit bergairah untuk dapat menyelesaikan studiku dan keluar menuju A real world.  Cinta itulah yang menuntunku hingga aku kini bisa menyelesaikan skripsiku. Mungkin dengan dirinya aku dapat bahagia” ungkapku dalam hati.
Hari berlalu getaran hatiku yang mulai kencang, kini mulai tak bergetar, sirna begitu saja. Cintaku dengan seseorang yang membuatku semangat yang kuharapkan hingga wisuda, kandas begitu saja. Ketidak pastian dirinya yang membuatku hampir terikat dengan tali yang salah sudah bisa kuatasi sampai sidang meja hijauku berjalan sempurna. Kini aku Nia pun mulai keluar bebas dari perkuliahan mencari tali-tali yang akan mengikatku kelak ke jalan yang benar. Aku mulai melakukan job hunting yang ada di sekitaran kota Medan. Hingga saatnya aku kini sudah mulai terikat dengan pekerjaanku yang baru di sebuah perusahaan financial. Ya walaupun tali yang terikat ini bukan impianku, tapi kelak akan mengikatku menjadi yang benar. Berharap.. #Hope.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

PENDIDIKAN

CAHAYA KASIH IBU