Menapak Kaki di Masa Depan
Menapak Kaki di Masa Depan
Rindu berpijak bebas, kini kaki hanya melangkah di jeruji
besi. Kubuka jendela duniaku yang hanya terlihat senandung irama yang kian hari
tiada ubah. Aku lalai dan pintuku terasa cepat dibekukan. Ku diantar dimana tak
terpintas dalam benak hati. Aku menganalogikan hidupku ditahan di sel sel yang gelap.
Kini aku belajar di tempat binaan-binaan
yang mungkin kukatakan aku adalah lahir baru. Kehidupan dihadapkan
dengan mereka-mereka pengayom di masa hidup di sel-sel gelap ini. Siapakah tuan
yang dapat membebaskan ku?.
Waktu adalah jawaban yang terus berputar. Orang bebas banyak
tuntutan dan kini aku tak dapat seperti kicauan burung yang berteriak di atas
udara. Aku ingin pulang, Ingin kuubah semua. Lalaiku ingin kumatikan. Lalu aku
hidup di atas pelangi yang tetap
bersinar. Masihkah itu mungkin terjadi?. Yang kutahu Sang Pencipta tidak pernah
menutup hati untuk manusia seperti diriku.
Aku ingin kembali dimana semula keberadaanku. Bagaimana hidup
sesuai hak-hak kodrati yang terucap dalam kitab-kitab Sang Pencipta. Ingin ku
dapatkan kesempatan hidup yang kan kulupakan masa laluku untuk mengubah dunia yang hanya sementara ini. Adakah ruang rindu yang akan mengerti makna
ungkapan yang tiada terucap. Yang semua terucap lewat pancaran wajah.
Kurindu pepatah katamu yang mengajari seraya
sosok Guru di lalaiku. Tak hanya ingin kudijaga, kau cukupkan tulang tulangku
untuk tetap kokoh tanpa sadar itu telah habis dengan batinku yang rindu sanak
saudara ku. Harapku hanya ajaranmu seraya Guru yang mengahantarku
memahami lalaiku, mengubah skenario hidup ku untuk menapaki terangnya langit
ciptaan Tuhan. Ajarku di sel-sel gelapku
tentang makna hidup yang telah kuabaikan di sepanjang bebasku. Ajarku
bagaimana kumenapaki kakiku di tempat tempat yang mungkin membawaku ke jalan
yang benar setelah kudibebaskan dari jeruji ini.
Komentar
Posting Komentar